Sabtu, 20 April 2013

komitmen dan kepercayaan.

Ketika kita menyukai seseorang, bukan berarti kita pasti akan suka selamanya. Ada masa-masa rasa suka itu berkurang, bahkan hilang sama sekali. Tetapi juga bukan berarti kalau sudah tidak suka lagi, maka selesai begitu saja.

Itulah gunanya komitmen, kepercayaan, yang akan membawa kembali perasaan suka persis seperti pertama kali dulu kenapa kita suka seseorang tersebut, atau malah lebih.

Kita tidak akan pernah bisa menghidupi sebuah hubungan jangka panjang hanya dengan cinta. Kita memerlukan energi lain, yaitu komitmen, kepercayaan.

--Tere Lije

"Cinta adalah persahabatan"

"Cinta adalah persahabatan"

Quote ini menghiasai banyak sekali film, buku, lagu, puisi. Kalian pasti pernah mendengarnya di manalah, bukan?

Tapi sebenarnya, menurut hemat saya, poin quote ini bukan: maka cinta sejati kalian kadang adalah sahabat sendiri, silahkan cek sahabat2nya. Bukan itu.

Melainkan ketika kita tiba di level paling tinggi sebuah hubungan cinta, maka cinta itu berubah mengkristal menjadi persahabatan. Seperti orang tua kita, seperti kakek-nenek kita. Seperti orang2 tua di sekitar kita. Cinta mereka menjelma menjadi persahabatan abadi. Bahkan mereka terlihat mirip satu sama lain, wajahnya, cara bicaranya, cara berjalannya. Seperti dua sahabat karib yang begitu dekat--karena, oleh dan untuk cinta.

--Tere Lije

Mungkin itu termasuk kalian, bukan?

Di dunia ini, banyak orang mencintai seseorang yang bahkan bicara dengannya langsung lebih dari 5 menit saja pun belum pernah.

Itulah kenapa urusan perasaan itu disebut 'gila'.

Mungkin itu termasuk kalian, bukan? Diam-diam memendam perasaan. Tapi tidak mengapa. Bersabarlah. Menunggu. Besok lusa, jika tiba waktunya, benar caranya, dan berjodoh, kalian bisa menghabiskan 50 tahun bersamanya.

MENJUAL SISIR

MENJUAL SISIR

Sebuah perusahaan membuat tes untuk menguji tiga calon staf penjualnya. Tesnya unik, yaitu menjual sisir di sebuah kompleks vihara. Tentu saja, tes ini dibilang unik karena para biksu yang ada di sana semuanya gundul, alias tak perlu sisir.

Keadaan inilah yang membuat calon pertama sangat kesulitan dalam menjalani tes ini. Pada akhirnya, ia hanya mampu menjual satu sisir. Itupun karena belas kasihan seorang biksu yang iba melihatnya..

Tapi, tidak dengαn calon kedua. Ia berhasil menjual sepuluh sisir. Namun katanya, ia tidak menawarkan sisir kepada para biksu, melainkan kepada para turis yang ada di sekitar kompleks itu. Ya, angin di sana memang cukup kencang sehingga sering membuat rambut jadi awut-awutan.

Lalu bagaimana dengan calon ketiga? Ia berhasil menjual 500 sisir!
Caranya? Ia menemui kepala vihara, lalu meyakinkan jika sisir yang dijualnya itu bisa jadi souvenir yang bagus untuk para wisatawan yang berkunjung ke kompleks vihara itu. Katanya lagi, kepala vihara bisa membubuhkan tanda tangan di atas sisir-sisir tersebut, dan itu akan menambah nilai sisir tersebut. Sang kepala vihara pun setuju untuk membeli ratusan sisir.

Teman-teman, ini mungkin hanya cerita ilustrasi.. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, hal seperti ini bisa menjadi gambaran pemikiran banyak orang.

Apa yang sering dianggap orang sebagai penghambat terbesar karier mereka? Bukankah banyak orang sering kali menyalahkan keadaan? Ini yang membuat calon pertama gagal menjual sisir.
Sementara calon kedua, sudah berani "think out of the box". Namun ia masih terpaku pada fungsi sisir: hanya sebagai alat untuk merapikan rambut.
Akan tetapi calon ketiga berani berpikir bahwa sisir bukan hanya alat merapikan rambut, melainkan bisa menjadi souvenir.

Kita tidak bisa mengatur situasi seperti yang kita kehendaki. Tapi, kita bisa mengerahkan segenap kekuatan kita untuk mencari solusi. "Segenap kekuatan" bukan hanya terbatas otot atau semangat, tapi juga pikiran, ilmu, kreativitas, serta kerja keras.

Mari, maksimalkan segala potensi diri kita! Kedepankan cara berpikir positif dan serba mungkin. :) Salam sukses luar biasa!!

Memiliki-mu

Memiliki-mu

Saya mencintai sunset,
menatap kaki langit, ombak berdebum
Tapi saya tidak akan pernah membawa pulang matahari ke rumah,
kalaupun itu bisa dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyukai bulan,
entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana
Tapi saya tidak akan memasukkannya dalam ransel,
kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyayangi serumpun mawar
berbunga warna-warni, mekar semerbak
Tapi saya tidak akan memotongnya, meletakkannya di kamar
tentu bisa dilakukan, apa susahnya, namun tidak akan pernah saya lakukan

Saya mengasihi kunang-kunang
terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap
Tapi saya tidak akan menangkapnya, dibotolkan, menjadi penghias di meja makan
tentu masuk akal dilakukan, pakai perangkap, namun tidak akan pernah saya lakukan

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki

Ada banyak sekali jenis suka, kasih dan sayang di dunia ini
Yang jika memang demikian, tidak harus dibawa pulang

Egois sekali, Kawan, jika tetap kau lakukan.
Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa matahari
Tiada lagi indah langit tanpa purnama
Juga taman tanpa mawar merekah
Ataupun temaram malam tanpa kunang-kunang

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati

Selalu begitu, hingga akhir nanti.

Kehilangan

Kehilangan

Apakah kita sedih saat HP atau laptop milik kita hilang,
Tentu saja sedih, siapa yang tidak
Tapi apakah kita sedih kalau masa remaja, masa muda, masa-masa keemasan kita
Hilang begitu saja, tidak bisa dicari lagi.

Apakah kita sedih saat ditinggal pesawat, kereta, dan tiketnya hangus
Tentu saja sedih, siapa yang nggak
Tapi apakah kita sedih kalau kita telah ditinggal hari
Pagi telah berlalu, siang sudah lewat, menyisakan malam penuh sesal?

Orang2 banyak sedih karena putus cinta, kehilangan seseorang
Tentu saja sedih, mungkin begitu
Tapi apakah orang2 sedih saat putus hidayah, kehilangan kelembutan hati
Untuk mendengarkan nasehat, mendatangi majelis ilmu

Orang2 banyak sedih karena kehilangan lowongan pekerjaan
Tentu saja sedih, boleh jadi
Tapi apakah orang2 juga sedih saat kehilangan kesempatan berbuat baik?
Malah tidak peduli, dan tidak tahu menahu.

Orang2 banyak sedih karena ketinggalan menonton film, ketinggalan makan siang,
ketinggalan apalah, kehilangan entahlah
Tentu saja sedih, mungkin demikian
Tapi apakah orang2 juga sedih saat tahu dia telah kehilangan begitu banyak waktu
Tersia-siakan oleh hal-hal mubazir dan tidak perlu

Ada banyak sekali jenis kehilangan di dunia ini
Sayangnya, kadang kita lupa mana yang hakiki, mana yang tidak
Harta benda yang hilang bisa diganti, tapi masa remaja tak akan pernah kembali
Perjalanan bisa di-reschedule, tapi tidak ada jadwal ulang untuk waktu
Bahkan cinta bisa berganti, bersemi lagi, tapi hal-hal hakiki, boleh jadi sudah terlanjur pergi
Dan kita justeru telah kehilangan sesuatu yang seharusnya kita tangisi siang malam
Sayangnya kita tidak menyadarinya.

Bukankah, atau bukankah

Bukankah, atau bukankah

Bukankah,
banyak yang berharap jawaban dari seseorang?
yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya
"jadi, jawaban apa yang harus diberikan?"

Bukankah,
banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa
"aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?"

Bukankah,
banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji
"kau menungguku? sejak kapan?"

Bukankah,
banyak yang menambatkan harapan
yang sayangnya, seseorang itu bahkan belum membangun dermaga
"akan kau tambatkan di mana?"

Bukankah,
banyak yang menatap dari kejauhan
yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain

Bukankah,
banyak yang menulis puisi, sajak2, surat2, tulisan2
yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama
pun bagaimanalah akan membacanya

Aduhai, urusan perasaan, sejak dulu hingga kelak
Sungguh selalu menjadi bunga kehidupan
Ada yang mekar indah senantiasa terjaga
Ada yang layu sebelum waktunya
Maka semoga, bagian kita, tidak hanya mekar terjaga
Tapi juga berakhir bahagia

Senin, 15 April 2013

Burung pipit, penyu dan pohon kelapa

Burung pipit, penyu dan pohon kelapa


Ada tiga teman baik, burung pipit, penyu dan pohon kelapa. Ketiga-tiganya menghuni sebuah pulau kecil, persis menghadap samudera luas. Bagaimana mereka bertiga bisa berteman? Satu mahkluk udara, satu mahkluk air, satu tumbuh2an. Jangan ditanya, karena sy juga tidak tahu jawabannya. Dalam membuat sebuah perumpamaan, ada hal2 yang tidak perlu dibahas panjang lebar, karena tidak ada gunanya. Jadi mari fokus saja ke ceritanya. Insya Allah kalian akan suka.

Nah, tiga teman ini sedang saling bercerita, tentang petualangan mereka kemana saja selama bertahun2 terakhir. Si burung pipit mendapat giliran pertama bercerita. Dia bilang, dia barusaja terbang ke pulau-pulau lain, mengunjungi sawah2 luas, menatap kota2 besar, melihat banyak hal, menyaksikan hal2 menakjubkan. Jauh sekali, bisa puluhan kilometer terbangnya. Lincah. Maka pengalamannya tidak terbilang. Seru sekali mendengar cerita si burung pipit. Dua temannya bertepuk tangan senang.

Si penyu mendapat giliran kedua bercerita. Wah, kalian tahu penyu, bukan? Usianya ratusan tahun, dan sesuai siklus, mereka bisa berenang melintasi samudera untuk mencari pasangan dan bertelur. Maka ceritanya lebih dahsyat lagi. Si penyu bilang dia menyaksikan kota-kota di tempat jauh, gedung2 tinggi, budaya dan peradaban berbeda, mereka bisa berenang ratusan hingga ribuan kilometer, penjelajah air yang tangguh. Lebih seru lagi mendengar cerita si penyu ini. Dua temannya bertepuk riuh, senang.

Giliran si pohon kelapa yang bercerita terakhir kali. Aduh, si kelapa bingung mau cerita tentang apa? Gimana sih? Bukankah dia tumbuh2an, ya sudah takdirnya terbenam di tanah, pinggir pantai, tidak bisa kemana2, menyaksikan iri, menonton cemburu hewan2 lain yang berpetualang. Dia tidak bisa kemana2. Dia hanya bisa menatap matahari terbit, kemudian sorenya tenggelam, sunset, hanya disitu2 saja, dipinggir pantai sepanjang hidupnya. Aduhai, apa yang harus dia ceritakan?

Si burung pipit dan si penyu menunggu antusias. Ayolah si pohon kelapa, apakah kau tidak punya cerita petualangan yang hebat? Dua teman baiknya membujuk. Maka setelah diam sejenak, si pohon kelapa akhirnya bercerita. Tentu saja dia punya cerita petualangan hebat, my dear anggota page. Namanya juga ini tulisan karang2an si Tere Liye, pasti ada sebuah rahasia kecil yang disimpan si pohon kelapa.

Apa rahasinya? Ternyata sederhana sekali. Lihatlah buah2nya yang ranum, berwarna kelabu, matang, lantas jatuh sendiri di pasir pantai. Air pasang datang menggulung si buah2 kelapa yang terjatuh. Lantas membawanya pergi ke lautan luas. Kalian tahu, buah kelapa itu tahan banting, mengapung, terombang-ambing oleh ombak, ikut saja kemana dibawa, berhari-hari, berminggu2, berbulan2, hingga ke seberang benua jauh tak terbilang, hingga akhirnya kandas sendiri di pantai berbeda, akarnya keluar, tunasnya tumbuh, menjadi pohon kelapa yang tinggi. Itulah petualangan si pohon kelapa. Tidak terbilang ratusan buah2nya yang mengambang, melayari samudera luas.

Si burung pipit terdiam, kemudian berseru, "Amboi, bukankah itu buah2 kelapamu yang tumbuh di pulau seberang itu, Teman?". Si penyu juga tidak kalah berseru, "Astaga, kawan, aku mengenal buah kelapamu yang tumbuh di pulau ribuan kilometer sana. Sudah jadi pohon kelapa yang berbuah lebat. Ternyata itu buah darimu?"

Maka, my dear anggota page. Kata siapa? Kata siapa sih kalau kita hanya ditakdirkan ada di situ2 saja, tidak bisa kemana2, entah karena keterbatasan, entah karena memang sudah nasib, maka kita tidak bisa melakukan hal hebat? Tentu saja bisa. Lihatlah si pohon kelapa di pinggir pantai itu. Dia tidak bisa terbang, tidak bisa berenang, tapi buah2 miliknya melanglang buana kemana2, lebih jauh dibanding si burung pipit dan si penyu. Kita bisa melakukan hal yang sama persis. Kebaikan kita, entah itu melalui tulisan, bantuan, pertolongan, dsbgnya, bisa menyentuh sudut2 dunia. Dan hei, hari ini, dunia toh sudah tersambung begitu rupa oleh teknologi, maka sungguh lebih canggih lagi kesempatan petualangan "buah2 kebaikan" milik kita.

Demikianlah. Mari kita kirim "buah2 kebaikan" tersebut kemana2.

 http://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/burung-pipit-penyu-dan-pohon-kelapa/529482763768963

Bulan purnama dan kita

Bulan itu tidak punya cahaya. Tapi kenapa dia bisa bersinar indah?
Karena dia memantulkan cahaya dari benda lain.

Jadi, jangan cemas jika kita merasa tidak memiliki cahaya sendiri
Jangan rendah diri, minder, itu tidak baik.
Pantulkan saja cahaya dari orang lain, kita akan ikut bersinar indah
Punya teman-teman yang baik dan saling menasehati
Pantulkan nasehatnya, repost, copas, share
Punya teman-teman yang pandai dan rajin
Pantulkan pandai dan rajinnya
Bahkan punya teman-teman yang jago main futsal
Pantulkan jagonya, ikut bermain bola

Maka kabar baiknya akan tiba,
Lama-lama, kita sendiri yang akan memiliki cahaya tersebut

Kenapa purnama itu bisa begitu elok?
Karena dia memantulkan cahaya matahari di malam yang justeru gelap.
Selalu begitu.

http://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/bulan-purnama-dan-kita/529456823771557

Minggu, 24 Maret 2013

Saudara Jauh Bandung (Kota Kembang)-Pagar Alam (Kota Bunga)

Saudara Jauh Bandung (Kota Kembang)-Pagar Alam (Kota Bunga)


Kota Bandung adalah ibukota dari Provinsi Jawa Barat. Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, karena pada jaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java karena keindahannya. Dan pada tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan.
Gedung Sate, Gedung Pemerintaha Provinsi Jawa Barat.
Pada tahun 1990 kota Bandung menjadi salah satu kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah Time.

Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga bentuk morfologi wilayahnya bagaikan sebuah mangkok raksasa, secara geografis kota ini terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat, serta berada pada ketinggian ±768 m di atas permukaan laut, dengan titik tertinggi di berada di sebelah utara dengan ketinggian 1.050 meter di atas permukaan laut dan sebelah selatan merupakan kawasan rendah dengan ketinggian 675 meter di atas permukaan laut.

Pemandangan Kota Bandung di malam hari
Pemandangan Kota Bandung di siang hari

Kota Bandung dialiri dua sungai utama, yaitu Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum beserta anak-anak sungainya yang pada umumnya mengalir ke arah selatan dan bertemu di Sungai Citarum. Dengan kondisi yang demikian, Bandung selatan sangat rentan terhadap masalah banjir terutama pada musim hujan.

Keadaan geologis dan tanah yang ada di kota Bandung dan sekitarnya terbentuk pada zaman kwartier dan mempunyai lapisan tanah alluvial hasil letusan Gunung Tangkuban Parahu. Jenis material di bagian utara umumnya merupakan jenis andosol begitu juga pada kawasan dibagian tengah dan barat, sedangkan kawasan dibagian selatan serta timur terdiri atas sebaran jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan tanah liat.

Semetara iklim kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab dan sejuk, dengan suhu rata-rata 23.5 °C, curah hujan rata-rata 200.4 mm dan jumlah hari hujan rata-rata 21.3 hari per bulan.





Selain Kota Bandung masih ada Kota Pagar Alam yang kondisi alamnya hampir mirip dengan kota bandung.

Simbol dari Kota Pagar Alam

Kota ini terletak di provinsi Sumatera Selatan. Kota Pagar Alam sendiri baru disahkan menjadi Kota mandiri pada tahun 2003, setelah sebelumnya termasuk Kota Administratif dalam lingkungan Kabupaten Lahat. Kota Bunga merupakan sebutan lain dari kota ini.

Kota ini terletak di kaki Gunung Dempo sehingga kota ini sangat kaya dengan obyek wisata. Selain itu di kota Pagar Alam juga terdapat banyak air terjun yang biasa disebut penduduk setempat curup, ada curup tujuh kenangan, curup embun dan masih banyak lagi.