Selasa, 17 Desember 2013

Sejuta Pesona Pagaralam, Hanyutku dalam Tadabbur Surat CintaNya


Sejuta Pesona Pagaralam, Hanyutku dalam Tadabbur Surat C


Aku bersandar di bangku panjang. Dedaunan ikut bergoyang dielus angin yang berhembus. Sebuah harmoni yang terlukis dalam bait-bait alam yang tengah memainkan orkestra.
Kedamaian memandang ke segala arah. Rumput yang jadi alas. Awan yang berarak menaungi asa yang tercipta.  Terdiam aku disaksikan alam yang selalu memberi makna. Sejuknya angin gunung memberiku satu kenyamanan yang berbeda,”Ya Robb, lepaskan beban ini dari pundakku”….Asa ini mulai sirna, harapan itu terasa hampa, hanya helaan nafas yang hadir bersama helaian lembut sang angin yang mampir mengelilingi.

Hijau berbalut senja. Si rumput dan para kanopi-kanopi payung menjulur bersama bayangan jingga. Gemericik air sungai yang mengalir tak jauh dari tempatku duduk, menambah lengkap  warna senja saat ini. Garis-garis senja juga terlukis melapisi putih awan. Aku berada di tengah alam yang selalu mengajarkan. Apa yang bisa dipetik darinya?

Aku tak lupa, Al-Quran kecil yang sedari tadi berada didekapanku. Menunggu sang pemilik untuk mengelusnya, lantas mentadabburinya. Aku tak lupa. Dan senja menemaniku menemukan kembali sinar-sinar cahaya yang mulai pudar, terkikis oleh arus deras warna lain, warna pekat dari bagian rasa kecewa. Inilah lemahnya aku, gelombang itu periodik mengubah setiap episodenya. Seharusnya aku paham pesan ini,” Sungguh ajaib perkara orang mukmin, jika ia mendapat kesusahan ia bersabar dan jika mendapat kebahagiaan ia bersyukur.” Derajat yang belum tersemat pada diriku.
Aku berdiri, gunung dempo yang sedari tadi membisu tetap pada pendiriannya. Kokoh tak terpengaruh oleh apapun. Yang lain juga begitu. Menikmati suasana senja ini.

Ku pegang erat Al qur’an hijau nan mungil itu, aku alih posisi. Duduk beralaskan sajadah rumput. Menikmati tiap bait surat cintaNya. Ada kedamaian didalamnya. Dan aku semakin larut dalam khusuknya menikmati bait-bait suci ini. Alam ikut mendengar. Dan suara itu ikut bergema bersama getaran yang dihantarkan udara, setidaknya oleh para pemain okestra di sekililingku. Suara ku bergetar..mengguncang plak-plak beban yang menghalangi jalanku. Dan perlahan ia ruptur bersama rintikan air mata….Setitik…dan semakin dalam

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
(Allah Yang Maha Pengasih)
Yang telah mengajarkan Al Qur’an
Dia menciptakan manusia
Mengajarnya pandai berbicara
Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan
Dan tetumbuhan dan pepohonan keduanya tunduk (kepadaNya)
Dan langit telah ditinggikanNya dan Dia ciptakan keseimbangan
Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu
Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu
Dan bumi telah dibentangkanNya untuk makhlukNya
Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
……..
Aku terisak.. semakin dalam, tak kuasa aku membendungnya…. “Fabiayyi alairobbikumaa tukaddzibaan” 29x kalimat itu diulang, membuat dadaku semakin sesak….. Bersamaan dengan itu perlahan masalah itu mengerdil… sungguh kecil. Ini hanya masalah syukur dan sabar. Tapi begitu hebatnya ia merantai qolbu.. hingga ia tak lagi jernih…..
Sungguh kekecewaan, kemarahan, kesedihan akan hilang jika jiwa terisi oleh syukur. Mereka tak sebanding dengan nikmat yang Allah berikan. “Na’udzubillah, jauhkanlah hamba dari kufur nikmat ya Robb….”

Aku bangkit melawan sisa plak yang masih menempel. Satu kali pukulan maka ia akan benar-benar hancur tak bersisa..Bismillah… hati yang bersih dan damai ketika mengingatMu ya Robb bersama para pembelajar. Alam yang selalu memngajarkan. Hijau kalian ikut bersemai dalam qolbu ini… tetaplah mengajarkan bahwa hidup adalah kesahajaan dengan bersabar dan bersyukur……

Cukup untuk senja ini,
gunung dempo, tetaplah kokoh dengan pendirianmu
Kebun-kebun teh, indahnya pagar yang kalian cipta,
Wahai angin, hembuskan kesejukan dalam tiap asa yang sirna
Senja, hiasi alam dengan indah siluetmu
Rumput dan pohon yang menjulang tinggi, bersinergis menjadi sajadah dan payung  bagi jiwa-jiwa gelisah
Air, sirami ladang-ladang yang gersang
Sinergi alam yang mampu mengajarkan, karena kita pembelajar sepanjang hayat…


Kamis, 05 Desember 2013

Foto-foto keren

Mendaki sebuah gunung bukan sebuah kebanggaan, Kawan

Karena kalau kita anggap pendakian gunung itu kebanggaan
Maka jangan lupa, penduduk setempat bahkan setiap hari
Setiap hari mencari kayu bakar, rotan, dan sebagainya di sana
Bahkan anak2 mereka pergi memancing ke atas danau di gunung
Berangkat pagi, pulang sore

Mengunjungi sebuah kota, New York, London, dsbgnya juga bukan prestasi
Karena kalau melanglang buana itu kita anggap prestasi
Maka jangan lupa, pengemis, gelandangan di sana setiap hari
Setiap hari mengemis dan menggelandang di jalanannya
Tidur di sudut2 kota, tempat kita baru saja ber-pose
Lantas kita bagikan di jejaring sosial

Kita tidak bicara berapa banyak gunung yang kita daki
Berapa lembar foto keren yang kita peroleh
Tapi berapa banyak pemahaman yang menetap di hati kita
Lantas menjadi sumber inspirasi kebaikan bagi sekitar
Menyayangi alam, memahami kebesaran Tuhan
Berhenti bertingkah kekanakan
Itulah hakikat pendakian tersebut

Kita tidak bicara berapa banyak kota yang kita kunjungi
Berapa lembar foto hebat yang kita dapatkan
Tapi berapa banyak pelajaran yang tinggal di kepala kita
Lantas menjadi sumber kebermanfaatan bagi orang lain
Memahami keanekaragaman dan perbedaan
Berhenti sombong dan berlebihan
Itulah hakikat sebuah perjalanan

Lakukanlah perjalanan mengelilingi dunia, Kawan
Kunjungi tempat2 indah dan spesial
Bukan untuk dicatat, difoto lantas dipamerkan
Tapi simpel, perjalanan adalah perjalanan
Dia akan mendidik kita dengan lembut
Tentang banyak hal

*Tere Liye